Penelitian Salah Logika Tentang VCO Penyebab Penyakit

Diterbitkan Dikategorikan dalam Artikel, Customer Alert, Diet, Kontroversial, Pilihan, Terapi Kelapa Ditandai , , , , , , Tak ada komentar pada Penelitian Salah Logika Tentang VCO Penyebab Penyakit

Ada satu penelitian yang sepertinya menyudutkan VCO, judulnya “Minyak Kelapa Murni (VCO) Digabung dengan Diet Tinggi Lemak Menginduksi Disfungsi Metabolik, Peradangan Adiposa, dan Akumulasi Lipid Hati”. Hasil penelitian ini ditulis dalam jurnal ilmiah yang bisa Anda lihat di link https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7370980/

Saya sudah membacanya sampai habis dan ada kesalahan “logika” atau pola pikir dalam kesimpulannya dimana biang keladinya adalah VCOnya, bukan salah menunya.

Dalam artikel penelitian tersebut tercatat sebagai berikut:

(1) Ada 12 tikus yang terbagi jadi 2 kelompok, yaitu 1 kelompok diberikan pakan tinggi lemak (HFD = High-Fat Diet) saja tanpa VCO dan kelompok ke 2 diberikan HFD + VCO.

(2) Setelah pemberian HFD selama 12 minggu, lalu tikus-tikusnya diberikan VCO selama 30 hari (Kelompok 2).

(3) HFD terdiri dari makanan tikus komersial yang ditambah dengan lemak babi (16 g lemak babi per 200 gram makanan tikus) diberikan segar setiap hari. Makanan tikus komersial rata-rata mengandung 22,5% protein, 8,7% lemak, 41% karbohidrat, dan 3,7% serat. Lemak yang dibeli memiliki sekitar 39 g lemak jenuh, 45 g lemak tak jenuh tunggal, 11 g lemak tak jenuh ganda, dan 95 mg kolesterol per 100 g lemak babi. Kandungan gizi makanan setelah penambahan lemak babi rata-rata tercapai 20,8% protein, 15,4% lemak, 37,9% karbohidrat, dan 3,4% serat. Berdasarkan nilai-nilai ini, 100 g HFD menawarkan 1502 kJ.

(4) Kelompok 1 (HFD) diberikan 2 mL saline per kg berat badan dan Kelompok 2 (HFD + VCO) diberikan VCO 2 mL per kg berat badan. Jadi sebenarnya Kelompok 1 walaupun tidak diberi VCO ternyata diberikan saline.

(5) Kelompok HFD + VCO makannya lebih banyak, berat badannya lebih tinggi, kadar LDL lebih tinggi, kadar aspartat aminotransferase (AST) dan alanine aminotransferase (ALT) juga lebih tinggi dibandingkan yang tanpa VCO. Kelompok 2 penumpukan lemak di hati juga lebih tinggi. Hipertrofi adiposit juga ada pada kelompok HFD + VCO, yang dikaitkan dengan peningkatan ekspresi tumor necrosis factor alpha (TNF-α) di jaringan adiposa.

APA YANG SALAH DENGAN JURNAL PENELITIAN INI?

(1) Kalau dilihat dari hasilnya memang real apa adanya. Jurnal ini tidak bohong. Yang salah adalah “logika” atau pola pikirnya.

Yang menyebabkan tikus-tikus tersebut sakit dari awal adalah HFD yang terdiri dari lemak babi + pakan tikus komersial. Kita tahu khan kalau lemak babi itu memang tidak sehat. Dan pakan tikus ini tidak jelas proteinnya dari apa, karbohidratnya jenis apa, dan lemaknya jenis apa (tidak tertulis dengan rinci di jurnal). Beda jenis, komposisi atau formula efeknya bisa gede banget lho!

Pakan HFD yang tidak sehat kalau digabung dengan VCO ya PASTI ada efek jeleknya. Lemaknya TERLALU tinggi. Menu makan seperti ini bukanlah menu yang sehat. Sama kalau misalnya Anda makan nasi organik ditambah sama mie instant, ya pasti hasilnya jelek, walaupun yang satu sehat (nasi organiknya) sedangkan yang satunya tidak sehat (mie instant). Karbo + karbo bukanlah gabungan menu yang menyehatkan, walaupun ditambahkan sedikit sekali sayur dan daging ayam.

Faktor jenis nutrisi, dosis, metode masak dan formula kombinasinya itu pengaruh banget lho dalam menentukan suatu menu jadi menu sehat atau tidak sehat.

Tahukah Anda bahwa larutan Saline itu mempengaruhi kolesterol?! Itulah sebabnya tikus-tikus yang di Kelompok 2 (HFD+ VCO) kondisinya lebih jelek daripada yang di Kelompok 1 (HFD + Saline).

Jadi hasil kesimpulan dari jurnal penelitian ini adalah salah di logikanya atau salah pakai “rumus”! Yaa… maklumlah mungkin para penelitinya hanya diajarkan berpikir obyektif tapi tidak diajarkan berpikir holistik (menyeluruh).

(2) Menu HFD yang sudah tinggi lemak ditambah dengan VCO yang juga tinggi lemak akan meningkatkan nafsu makan, sehingga tikus-tikus lebih banyak makan FHD yang tidak sehat tersebut. Itulah sebabnya Kelompok 2 lebih gendut daripada Kelompok 1.

Sama seperti manusia, kalau dikasih makanan berlemak, aduh enaknya bukan main bikin lahap dan ketagihan. Apalagi kalau makanan berlemak tersebut tinggi karbo (seperti pakan tikus di penelitian tersebut), waah makin joss rasanya, makannya tak terkendali dan otomatis gemuk (tidak sehat).

Gimana, sudah mengerti alur logikanya?!

(3) Seharusnya penelitiannya begini: si tikus dikasih HFD untuk supaya sakit tertentu, nah sesudah sakit, HFD tersebut distop dan mulai diberikan VCO. Sesudah beberapa lama, lalu dicek apa efek VCO terhadap sakitnya si tikus: makin parah atau tambah sembuh?

Ini sama seperti misalnya ketika manusia sakit gara-gara pola makan yang salah, ya kita stop dulu menu salahnya terus kita kasih obat untuk menyembuhkannya. Dari sana kita bisa tahu obat tersebut manjur atau tidak. Betul?!

(4) Atau penelitiannya begini: si tikus dikasih makanan normal, bukan yang aneh-aneh dan tidak terlalu tinggi lemaknya, lalu dikasih rutin VCO. Beberapa lama kemudian dilihat hasilnya apakah VCO bisa menyebabkan sakit tertentu atau tidak? Nah, kalau seperti ini baru benar.

 

YANG BISA DIPELAJARI DARI PENELITIAN TERSEBUT

Setidaknya ada yang bisa kita pelajari dari penelitian “salah logika” tersebut yaitu:

(1) Jangan gabungkan VCO dengan junk food tinggi lemak, karena walaupun bermanfaat untuk insulin, glukosa darah dan trigliserida, tapi justru tidak baik untuk hal lainnya yang mengganggu liver dan obesitas.

(2) Hasil negatif di atas terjadi jika kita memakai menu salah ini dengan rutin.

(3) Pentingnya belajar berpikir holistik (menyeluruh) supaya Anda bisa menilai sesuatu dengan benar. Anda mungkin obyektif, tapi kalau logikanya salah yaa hasilnya juga akan tetap salah.

Ada lho jurnal ilmiah yang punya salah logika tentang VCO dan lemak jenuh lainnya, apalagi diungkapkan oleh Profesor di Harvard! Anda bisa melihat artikelnya DI SINI.

Berpikir holistik tidak hanya diwajibkan untuk tenaga medis saja, tapi juga yang awam supaya tidak “menyesatkan” dan tidak “disesatkan”.

Mau belajar tentang Berpikir Holistik di dunia kesehatan (bukan sekedar berpikir positif)? Silahkan klik DI SINI.

Dt Awan (Andreas Hermawan), www.MedisHolistik.com

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Saline_(medicine)

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4028897/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7370980/

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *